Arti Ahlan Wa Sahlan

Pernahkah Anda berkomunikasi menggunakan Bahasa Arab? Salah satu kalimat yang paling sering didengar adalah ahlan wa sahlan. Apakah arti ahlan wa sahlan yang sering diucapkan ketika baru saja bertemu itu?

Selain itu, adakah makna yang terkandung di balik kalimat tersebut? Serta apakah jawabanya yang harus dikatakan jika mendapati seseorang berkata ahlan wa sahlan pada kita? Pembahasan mengenai kalimat tersebut akan dikupas pada tulisan kali ini.

Arti Ahlan Wa Sahlan Secara Bahasa

Arti-Ahlan-Wa-Sahlan-Secara-Bahasa

Secara umum, kalimat tersebut memiliki arti selamat datang. Penulisannya dalam Bahasa Arab adalah sebagai berikut: أَهْلًا وَسَهْلًا . Namun sebetulnya, kalimat ini terdiri memiliki arti yang lebih luas lagi.

Baca Juga : Arti Kaifa Haluk

Ahlan wa sahlan terdiri dari dua kata, yang secara harfiah bisa diartikan sebagai berikut:

  • أهْلَ” atau “ahlan”, berasal dari “ahlun” yang artinya adalah keluarga
  • سَهْلًا” atau sahlan yang memiliki arti mudah

Jadi, ketika dua kata itu digabung dan membentuk sebuah kalimat khusus yang berbunyi ahlan wa sahlan, terdapat sebuah makna yang terkandung di dalamnya, yaitu:

“Saya menerima anda sebagai bagian dari keluarga kami dan kami menerima anda dengan mudah (tanpa mempersulit urusan-urusan anda).”

Pendapat Lain tentang Arti Ahlan Wa Sahlan

Pendapat-Lain-tentang-Arti-Ahlan-Wa-Sahlan

Ada pula yang berpendapat bahwa kalimat tersebut berasal dari “halalta ahlan wa nazalta sahlan”. “ji’ta ahlan wa wati’ta sahlan”, atau “atayta ahlan wa halalta sahlan”, juga “qadimta ahlan wa wata’ta sahlan”. Meski struktur kalimatnya atau penyebutannya berbeda, namun maknanya tetap sama.

Makna yang terkandung dalam kalimat ini adalah tamu atau pihak lain yang dating  akan dianggap sebagai keluarga kita, dan diterima dengan mudah tanpa adanya hal-hal yang dipersulit. Seperti arti dari kata “ahlan” dan “sahlan” tadi, yaitu keluarga dan mudah. 

Mengapa dalam Bahasa Indonesia kalimat ahlan wa sahlan identik dengan ucapan selamat datang?

Karena jika merujuk pada konteks saat kalimat ini digunakan, penerjemahannya akan seperti, “silakan, tidak usah sungkan-sungkan” ataupun “anggap saja seperti rumah sendiri” yang biasa kita ucapkan kepada orang yang baru saja datang.

Hadist Mengenai Arti Ahlan Wa Sahlan

Hadist-Mengenai-Arti-Ahlan-Wa-Sahlan

1. Hadits 1

Dapat disimpulkan bahwa ketika ahlan wa sahlan itu terucap, itu berarti adanya penerimaan dari kita terhadap kehadiran tamu dan menganggap mereka layaknya keluarga atau bagian dari keluarga kita.

Kalimat tersebut sejalan dengan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:

عَنْ  أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ  عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  “قَالَ  مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا ، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًـا ، سَهَّـلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَـى الْـجَنَّةِ ، وَمَا اجْتَمَعَ قَـوْمٌ فِـي بَـيْتٍ مِنْ بُـيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ ، وَيَتَدَارَسُونَـهُ بَيْنَهُمْ ، إِلَّا نَـزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ ، وَغَشِـيَـتْـهُمُ الرَّحْـمَةُ ، وَحَفَّـتْـهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ ، وَذَكَـرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ، وَمَنْ بَطَّـأَ بِـهِ عَمَلُـهُ ، لَـمْ يُسْرِعْ بِـهِ نَـسَبُـهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya.”

Tradisi Arab

Seperti yang terjadi dalam tradisi Arab, ketika seseorang telah dipersilakan masuk ke dalam rumah serta duduk, maka ia sudah resmi menjadi tamu dan tamu adalah raja. Maka artinya, seseorang yang datang itu haruslah dihormati, dihargai, serta dimuliakan. Bahkan disediakan atau dihidangkan makanan juga minuman untuknya.

Di sana, sudah sangat biasa dengan tradisi menyiapkan hidangan makan besar untuk tamu-tamu yang datang dan memuliakan mereka. Selain diberi makanan, tamu juga dipastikan kenyamanan dan keamanannya, maka mereka dianggap seperti keluarga sendiri.

2. Hadits 2 

Memuliakan tamu adalah hal yang mulia, seperti terdapat dalam hadits Rasul yang mengatakan bahwa:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. [رواه البخاري ومسلم]

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Namun, dalam urusan bertamu itu ada batasannya juga, yaitu dalam waktu 3 hari. Jika ada yang bertamu lebih dari waktu tersebut, maka tuan rumah akan lepas dari tanggung jawab terhadap mereka.

Untuk itu, ahlan wa sahlan bukan hanya sekedar basa basi belaka, melainkan artinya adalah mendalam dan luas, yaitu Anda yang datang adalah bagian dari keluarga kami, untuk itu janganlah sungkan ataupun malu-malu, karena ini adalah rumah Anda juga.

Jawaban Ahlan Wa Sahlan

Jawaban-Ahlan-Wa-Sahlan

Jika ada seseorang yang mengucapkan ahlan wa sahlan kepada kita, maka jawabannya secara umum adalah Ahlan bika, ahlan biki, atau ahlan bikum, bergantung kepada siapa yang mengucapkannya. Berikut penjelasannya secara lengkap:

  • Jika diucapkan oleh laki-laki

Jawablah dengan “Ahlan bika” (“أَهْلًا بِكَ “)

  • Jika diucapkan oleh wanita

Jawab dengan kalimat “Ahlan biki” (“أَهْلًا بِكِ “)

  • Jika yang mengucapkannya jamak

Gunakan “Ahlan bikum” (“أَهْلًا بِكُمْ “) untuk menjawabnya

Walau begitu, artinya tetap sama, yaitu “selamat datang juga, kamu” , “kamu juga” atau “sama-sama”

Penggunaan Ahlan Wa Sahlan

Penggunaan-Ahlan-Wa-Sahlan

Selain ahlan wa sahlan, kata lain dalam Bahasa Arab yang memiliki arti juga makna selamat datang ialah Marhaban. Kapan kedua kata tersebut dapat digunakan?

Secara arti, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa ahlan wa sahlan terdiri dari dua kata, uaitu keluarga dan mudah. Yang berarti, ucapan ini digunakan kepada seseorang atau tamu yang datang dan secara otomatis, kita (sebagai tuan rumah) akan memberikan kemudahan atau membantu urusannya.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), marhaban adalah kata seru yang dipergunakan untuk menyambut atau menghormati tamu yang datang.

Jadi sudah cukup jelas bukan mengenai perbedaan keduanya? Ahlan wa sahlan digunakan ketika kita sebagai tuan rumah menyambut tamu dan memudahkan urusan mereka (melayani), marhaban digunakan sebagai seruan selamat datang kepada seseorang atau sesuatu yang baru atau akan datang.

Ungkapan Selamat dalam Bahasa Arab Lainnya

Ungkapan-Selamat-dalam-Bahasa-Arab-Lainnya

Selain selamat datang, banyak ungkapan “selamat” dalam Bahasa Arab yang bisa digunakan pada keseharian kita, seperti:

  • Selamat pagi: shabahul khair ( صَبَاح الْخَيْر )
  • Selamet Siang: Thooba nahaaruk (طاب نهارك)
  • Selamaat sore: masaaul khair ( مَسَاءُ الْخَيْرِ )
  • Selamatt malam: lailatun sa’iidatun (ليلة سعيدة). atau Thaabat lailatukum ( طَابَتْ لَيْلَتُكُمْ)
  • Sellamat Makan: Hanii.an marii.an (هنيئا مريئا)
  • Selamat Tidur: Tashbakhu ‘alal khoir (تصبح على الخير)
  • Selamat jalan: ma’as salaamah (مَعَ السَّلاَمَة)
  • Sampai jumpa lagi: Ilal liqoo’ (إلى اللقاء )
  • Selamat hari raya: ‘iidun mubaarok (عيد مبارك عيد سعيد)

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Ahlan wa sahlan adalah perkataan yang sering kita dengar dan biasanya ada di awal perjumpaan. Nah, setelah mengetahui berbagai informasi di atas, jangan salah lagi mengucapkan Ahlan wa sahlan ya!

Artikel Lainnya :